Oleh : Ken | 18-January-2012 | News
Cibinong (bogorOnline) - Dekan Fakultas Pertanian IPB Ernan Rustiadi menilai, tata ruang Kawasan Puncak Kabupaten Bogor, mengalami inkonsistensi (tidak konsisten) dengan daya dukung lahan yang ada. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya longsor dan banjir di wilayah Jabodetabek.
Menurut Ernan, kawasan Puncak seharusnya menjadi kawasan hutan, tapi kenyataannya saat ini justru menjadi hutan bangunan dan perkebunan.
“40 persen kawasan Puncak tidak sesuai dengan tata ruang. Di mana sejumlah kawasan tidak sesuai dengan peruntukannya, seperti wilayah hutan konservasi berubah menjadi perkebunan. Sementara lahan pertanian berubah fungsi menjadi lahan perumahan, villa dan bangunan lainnya,“ paparnya..
Selain itu, lanjut Ernan, 39 persen lahan pemukiman di wilayah Puncak tidak sesuai dengan tata ruang. Begitu juga dengan perkebunan di kawasan tersebut 34 persen tidak sesuai RTRW.
“Penyimpangan lahan terbesar terjadi pada lahan hutan lindung yang dijadikan perkebunan dengan luas lahan sebesar 900 hektar. Lahan hijau yang masih tersisa saat ini hanya 36 persen atau seluas 5.200 hektar. Tapi, jumlah ini tidak cukup untuk mengkoservasi wilayah hulu Jabodetabek," katanya.
Sementara itu, berdasarkan penilitian yang dilakukan Ernan, sejak 1999 hingga 2007 lahan hutan wilayah Puncak terus berkurang. Kini hanya tersisa 134 hektar.
Dia menambahkan, kondisi ini bila tetap dibiarkan akan menjadi ancaman besar bagi wilayah Jabodetabek.
"Apalagi sekarang sedang musim hujan. Puncak musim hujan akan terjadi Februari. Diprediksikan, kondisi ini akan mengacam Jakarta, banjir bandang bisa saja terjadi dan longsor ikut mengancam," pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Bogor Rachmat Yasin mengatakan, masalah tata ruang memang merupakan persoalan utama Puncak. Selama ini Pemkab Bogor sudah berupaya untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya walaupun masih terkendala beberapa hal.
“Kami sangat menyadari penataan kawasan Puncak merupakan hal yang sangat penting, namun langkah Pemkab masih banyak terkendala oleh hal-hal non teknis yang sudah ada sejak zaman orde baru dulu,“ katanya. (Wulan)