Oleh : | 11-January-2012 | News
Dramaga (bogorOnline) - Guna mengurai kemacetan di kawasan Puncak Bogor, DR. Ir. Hj. Syarifah Sofiah D., M.Si dalam Disertasinya yang berjudul Model Kebijakan Pengelolaan Pariwisata Yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor, berpendapat jika perlu adanya kebijakan pembatasan jumlah kendaraan ke arah Puncak.
Syarifah yang ditemui seusai sidang Disertasi di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB, Rabu (11/01/02) mengatakan, dampak aktifitas pariwisata yang nampak terlihat jelas adalah terjadinya kemacetan lalu lintas, terutama pada akhir pekan atau hari libur.
“Berdasarkan survey data primer (traffic counting/TC) yang dilakukan oleh DLLAJ pada tahun 2001, volume lalu lintas di jalan raya Puncak rata-rata adaah 28.800 kendaraan perhari atau sekitar 1.200 kendaraan perjam. Pada tahun 2009 dilakukan kembali survey data primer di pos pengamatan Ciawi dengan hasil rata-rata jumlah kendaraan yang melintas adalah sebanyak 39.564 kendaraan perhari atau 1.649 kendaraan perjam.
Untuk itu butuh kebijakan-kebijakan yang dapat mengurai kendaraan agar tidak terjadi kemacetan,” papar mantan Kepala Badan Perizinan Terpadu (BPT) Kabupaten Bogor ini.
Menurutnya, moda transportasi massa dirasa cukup efektif dalam mengurai kemacetan di Puncak dibandingkan dengan metoda one way (buka tutup jalur) yang diterapkan selama ini.
“Khusus untuk wisatawan yang hendak mengunjungi Puncak, bisa menggunakan transportasi massa berupa bus pariwisata, train, monorel dan lain-lain. Sedangkan untuk warga setempat yang berdomisili di Puncak, bisa menggunakan tanda khusus di kendaraannya sehingga diperbolehkan melintas. Sedangkan untuk pengendara yang hanya lewat kawasan Puncak untuk menuju Cianjur, Bandung dan sekitarnya dapat
menggunakan jalur alternatif puncak II,” tandasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Puncak yang telah menjadi ikon Kabupaten Bogor membutuhkan penanganan khusus dari berbagai sektor. Hal inilah yang mendorong dirinya melakukan penelitian mengenai pariwisata Puncak dan dampaknya.
“Saya berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif sebagai koreksi terhadap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pariwisata di Puncak, dapat dijadikan sebagai acuan bagi para pelaku pariwisata dalam mengembangkan usaha yang berkelanjutan, sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dibidang pariwisata, menjadi alternatif model bagi pengelolaan pariwisata terutama dalam
memaduan unsur konservasi dan pariwisata serta menjadi acuan untuk penyempurnaan kebijakan penataan ruang, perizinan, pengelolaan lingkungan, pembinaan sosial budaya, hukum dan kelembagaan, ekonomi, sarana dan prasarana, agar dalam implementasinya dapat berkelanjutan,” harapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB Ernan Rustiadi, yang juga sangat konsisten melakukan kajian-kajian dan penelitian tentang kawasan Puncak menuturkan, hasil penelitian yang dilakukan oleh Syarifah sangat menarik, karena menunjukkan bahwa diluar scenario jalan alternatif masih ada pilihan lain yang dirasa lebih baik dalam
mengatasi kemacetan puncak.
“Penelitian ini cukup bagus jika ditindak lanjuti, karena scenario angkutan masal bukan menghilangkan namun hanya membatasi kendaraan yang lewat, sehingga jalur tersebut khusus untuk penduduk setempat yang sudah sangat dirugikan dengan system one way,” tegasnya.
Ernan juga berpendapat jika komitmen dan sinergitas dari semua stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanganan masalah di Puncak, termasuk masalah bangunan liar yang saat ini mencapai angka 1.368 unit. (Wulan)
Tags : puncak, transportasi, macet